Mesin Cetak Bertinta

Pagi Itu sama seperti pagi pagi yang lain sehingga tak disadari olehnya akan kejadian itu, sungguh kejadian yang amat menyedihkan, tiba tiba terdengar suara seseorang dari kejauhan yang memanggil-manggil! Budi…..Budi….tunggu..! ujarnya. Sejenak ia pun berhenti dan
turun dari sepeda penuh sejarah yang ia kayuh saat itu budi langsung berhenti dan

turun seketika aku berlari dan menghampirinya. Budi adalah seorang anak petani yang hidup pas-pasan. Dengan wajah panik budi pun bertanya, ada apa ton? Ujar budi, seketika itu anton langsung mengatakan kepada budi bahwa dirumah ibunya sakit keras, ia harus segera pulang. Sedangkan anton adalah anak kepala desa yang hidupnya sangat berkecukupan.

Wajah budi berganti, bagaikan wajah yang dikenai asap-asap pedas, yang mengeluarkan air mata kesedihan.tanpa satu katapun dari mulutnya ia langsung naik ke sepeda tua itu dan mengayuh,budi mengayuh sepedanya bagaikan menaiki motor dengan kecepatan pembalap, bahkan ia tidak memikirkan tentang keselamatannya saat itu yang ia pikirkan hanyalah nasib ibunya, sepanjang jalan budi hanya bisa terdiam dan terdiam wajahnya yang penuh keceriaan berubah menjadi wajah lugu yang siap untuk disiram air Lumpur.
Aku yang mengikuti di belakanngnya sempat beberapa kali tertinggal dari langkah-langkah laju rodanya. Semakin cepat kupacu gerak roda-roda sepeda pahlawan milikku ini. Budi pun terkejut karena rumahnya telah dipenuhi banyak orang ia langsung lompat dan menerobos masuk kerumunan yan membanjiri rumahya itu. Ternyata orangtua budi telah tiada! Tangis kecil budi itu sontak berubah menjadi tangis yang amat sangat mengharukan kali ini ia tidak dapat lagi membendung tangisnya, ia hanya bisa menangis,menangis dan hanya menangis karena ia tak tau apa yang harus diperbuatnya ia bingung apa yang harus dilakukukannya namun nasib dan takdir seseorang siapa yang tau? Orangtuanya harus segera dikebumikan. Kini Budi harus tinggal sebatang kara karena ayahnya telah meninggak dua tahun yang lalu.
Keesokan harinya budi harus menjalankan rutinitasnya sebagai pelajar SMA Negeri di kampungnya, untung saja budi adalah anak yang rajin dan pintar, budi mendapatkan beasiswa sampai ia lulus dan buku pelajaran ia dapatkan secara gratis, saat ini budi sudah kelas 3 SMA! Bahkan aku sungguh salut dengannya di saat ia harus focus terhadap ujian nasional yang akan dilaksanakan 3 minggu mendatang ia harus menerima kenyataan bahwa orangtuannya harus menghadap yang maha kuasa dengan cepat,namun kulihat wajahnya seperti tidak sedang tertimpa musibah, budi selalu menutupi setiap musibah-musibah yang dialaminya ia tidak ingin orang lain ikut bersedih apalagi merasa kasihan karna musibahnya.
 Bel berbunyi pertanda ilmu akan segera dibagikan aku dan budi yang memang sudah berada di kelas sejak tadi pagi hanya duduk dan menunggu teman-teman yang lain berdatangan memasuki kelas. Hingga semua telah memasuki kelas begitu juga dengan guru yang juga memasuki kelas ini. Kegiatan belajar mengajar pun dimulai namun karna kami sudah mendekati ujian nasional sehingga kami hanya membahas soal-soal menghadapi ujian nasional dengan semangat budi yang dengan cepatnya mengerjakan soal kimia kedepan, sungguh aku tak habis pikir anak ini sungguh jenius, pintar atau bagaimana??? Bahkan, ia tak terpengaruh akan kepergiaan orang tuannya!
Waktu berlalu sangat cepat hingga tak terasa bel pulang sekolah telah berdering, aku langsung menghampiri budi dan mencoba untuk menghiburnya. Sepanjang jalan aku mencoba mengajaknya untuk bercanda dan sepertinya ia sangat terhibur oleh celotehan-clotehan yang aku buat hingga tanpa terasa telah sampai di depan rumah budi, ia pun menawarkan aku untuk mampir kerumahnya, namun aku menolaknya karena aku ingin langsung pulang. Waktu sungguh terasa amat sangat cepat sekali, tanpa terasa besok kami harus melaksanakan ujian nasional, ujian nasional yang akan dilakukan selama empat hari. Selama empat hari itu nasib kami selama tiga tahun dipertaruhkan oleh enam mata pelajaran dan 12 jam waktu mengerjakan. Ketika fajar telah menampakkan wajahnya dengan semangat aku berangkat dan menghampiri budi yang memang rumahnya selalu aku lewati namun sepertinya rumah budi sudah sepi, hingga aku berfikiran bahwa Budi sudah berada di sekolah.
Sesampaiku disekolah aku tak melihat wajah wibawa Budi, bahkan tak ada di ruang ujian, karena ruang ujianku dengan budi satu ruangan.hingga penuh rasa kaget aku melihat Budi sedang membaca di perpustakaan sekolah, ‘sungguh anak ini tak kenal lelah dalam menuntut ilmu, semoga saja cita citanya untuk menjadi seorang dokter dapat terkabukan’ Ujarku dalam hati.
Bel berbunyi pertanda kami harus segera memasuki ruangan karena ujian akan segera dimulai, ujian pertama hari ini adalah Biologi dan Bahasa Indonesia ketika soal mulai dibagikan saat itu pelajaran pertama adalah Biologi dan aku tidak melihat kesulitan soal begitu juga setiap kupandang wajah Budi ia tampak santai dan tenang dan tanpa terasa Bel pun kembali berdering pertanda kami harus megosongkan ruang ujian, aku bergegas menemui Budi tentang ujian tadi ia hanya ternesnyum waktu semakin berlalu sehingga bel pulang berdering kami pun pulang sepanjang jalan aku bertanya kepada Budi tentang ia akan melanjutkan kemana setelah selesai SMA ini ia pun menjawab ‘sepertinya aku tidak langsung melanjutkan kuliah ton! Aku akan mencari pekerjaan dikota terlebih dahulu, setelah uangku terkumpul baru aku akan melanjutkan kuliahku’ Ujarnya kepadaku.
Waktu berputar semakin cepat tak kurasakan empat hari ujian telah selesai dan pengumuman hasil ujian akan di umumkan minggu depan aku tak sabar menunggu hari itu, setelah ujian kami semua libur hingga pengumuman nanti memang waktu selalu berputar sangat cepat tanpa sadar esok adalah pengumuman, dan ketika sang fajar menampakkan wajahnya aku sangat bersemangat, langsung aku bergegas berangkat ke sekolah, sesampainya di sekolah aku langsung menghampiri kerumunan yang melihat hasil ujian yang di tempel di papan pengumuman.
Aku berlari menuju papan itu dan kulihat budi berada di sisi samping papan itu, aku melihat raut wajah senang bercampur haru aku melihat nama Budi berada di posisi paling atas, tak heran karena Budi merupakan siswa dengan nilai tertinggi nilainnya hampir sepuluh semua dan kulihat namaku berada di posisi ke lima aku sangat senang dan bangga, aku bangga bukan hanya karena namaku berada di posisi lima terbaik, melainkan karena aku dapat lulus dan dapat melanjutkan kuliah. Aku berjalan menghampiri budi yang terlihat sangat terharu, aku sangat paham dengan perasaanya kali ini, aku tau ia pasti bingung karena harus meberitahui kesuksesannya kepada siapa. Sepulangnya dari sekolah Budi memintaku untuk menemaninnya ke makam kedua orang tuannya yang kebetulan berdampingan disana kulihat ia menangis hingga tak tersadar akupun ikut menangis terharu, Hari semakin larut dan kami memtuskan untuk segera pulang sepanjang perjalanan budi yang dari tadi mengobrol denganlku ia sambil berpamitan denganku, bahwa ia akan berangkat ke kota besok pagi, Namun aku juga berniat juga akan berangkat esok pagi bersamaan dengan Budi. Pada keesokan hari kami berangkat kekota bersamaan sesampainya disana, namun sesampainya disana aku berubah pikiran, aku mengubah pikiranku untuk langsung berkuliah karna sepertinya aku tertarik dengan pemikiran Budi untuk mencari pekerjaan dikota, aku pun mengajaknya untuk membuka percetakan di Area Kampus UI Budi tertawa sambil heran hingga ia bertanya padaku ‘aku tidak punya cukup modal untuk melakukan hal itu ton!’ Ujarnya kepadaku.
Aku pun mengatakan bahwa aku memiliki modal yang diberikan orangtuaku untuk uang selama aku berada di Jakarta budi pun mau namun hari semakin sore dan kami belum menemukan sebuah tempat tinggal, hingga aku ingat akan perkataan orangtuaku yang berpesan ketika masih dikampung, beliau berpesan kepadaku, bila belum dapat tempat tinggal aku disarankan untuk tinggal di rumah pamanku yang berkediaman tidak jauh di dekat Kampus UI kami pun bergegas kesana sesampainya disana kami langsung disambut baik oleh paman dan bibikku ternyata mereka telah menyiapkan satu kamar kosong yang dapat dipergunakan untuk ku dan Budi.
Keesokan harinya kami mencari tempat yang bisa digunakan untuk tempat tinggal sekaligus membuka percetakan kecil. Dan kami mendapatkan nya tak jauh dari pintu samping Kampus Universitas Indonesia itu kami menemukan satu kios kosong yang tidak terlalu mahal, kami langsung mencari perlengkapan yaitu komputer dan sebuah printer langsung kami membuka usaha kami itu alhasil usaha itu sangat sukses hingga pada suatu ketika ada seorang mahasiswa yang mengeprint sebuah Sertifikat penghargaan tentang Penelitian Ilmiah Nasional, ia mengeprint sebanyak 100 lembar, malam itu aku dan Budi bekerja lembur aku yang berada di depan computer dan mengoperasikannya, sedangkan budi yang memotong sesuai ukuran yang diminta, Hingga Satu Demi Satu Kertas Prestasi Itu Keluar Dari Mesin Cetak Bertinta.




                                                                                        Oleh: Faisal Rifqi Arbani
                                                                                        SMA Dharmawangsa Medan

3 komentar: